Berita

Ini Dia 5 Inflasi Terburuk Dalam Sejarah!

Inflasi-Terburuk-Dalam-Sejarah
Inflasi-Terburuk-Dalam-Sejarah

Inflasi dan penurunan nilai Rupiah telah menimbulkan kecemasan. Banyak orang yang khawatir kalau krisis moneter di Tahun 1997 akan terulang kembali jika kondisi perekonomian negara tidak membaik, meskipun sebenarnya masalah yang sama juga dihadapi banyak negara di dunia saat ini. Namun, tahukah anda bahwa ada beberapa kasus inflasi terburuk dalam sejarah di abad ke-20?

5 Inflasi Terburuk Dalam Sejarah

Dalam sebuah artikel tulisan Pablo Uchoa di BBC, ia mengutip beberapa kasus inflasi terburuk dalam sejarah sepanjag abad ke-20. Inflasi buruk yang pernah terjadi di berbagai negara di dunia mungkin dapat menjadi pelajaran bagi negara lain. Berikut adalah 5 kasus inflasi terburuk dalam sejarah abad ke-20:

Hungaria, 1946

Pada bulan Juli 1946, inflasi di Hungaria mencapai puncaknya, dengan tingkat inflasi yang nyaris tidak bisa dibayangkan, yakni 41.900.000.000.000.000%! Ini adalah catatan inflasi terburuk yang pernah ada dalam sejarah. Angka inflasi harian mencapai 207%, di mana harga-harga naik dua kali lipat setiap 15 jam. Artinya, berapapun uang yang dimiliki seseorang di pagi hari, nilainya hanya tinggal separuh di sore hari.

Perang Dunia II telah mengikis kekayaan negara ini hampir 40%, dan hampir 80% ibukota Hungaria, Budapest, mengalami khancuran. Jalan-jalan, rel kereta api, dan fasilitas umum lainnya dibombardir. Pemerintah dipaksa membayar jutaan kompensasi setelah perang.

Pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menaikkan nilai mata uang. Pada tanggal 01 Agustus 1946, Pemerintah Hungaria mengambil langkah yang terbilang radikal untuk menstabilkan perekonomian negaranya. Di antaranya adalah reformasi pajak secara drastis, mengembalikan aset emas yang dibawa keluar negeri, serta memperkenalkan mata uang baru, yakni Forint. Saat diberlakukan, 1 Forint sama dengan 400 octilllion (seribu triliun triliun atau satu juta juta juta) dari mata uang yang lama.

Zimbabwe, 2008

Sepuluh tahun yang lalu, Zimbabwe mengalami salah satu inflasi terburuk dalam sejarah. Hiperinflasi ini terjadi setelah program reformasi agraria yang menuai banyak kontroversi di akhir tahun 1990an. Akibatnya, terjadi penurunan perekonomian secara drastis di sektor pertanian. Kondisi perekonomian semakin diperburuk oleh keterlibatan negara ini pada Perang Kongo Tahun 1998, serta dampak dari embargo Amerika dan Eropa terhadap pemerintahan Robert Mugabe di Tahun 2002.

Pada bulan November Tahun 2008, inflasi di Zimbabwe mencapai 79.000.000.000% per bulan. Angka inflasi harian mencapai 98%, di mana harga-harga naik dua kali lipat setiap 25 jam. Bahkan, harga produk di toko nai beberapa kali dalam sehari. Perekonomian negara yang morat-marit membuat penduduk Zimbabwe menderita akibat kekurangan air dan energi listrik. Antrian panjang terlihat di stasiun pengisian bahan bakar maupun di bank.

Karena kekurangan bahan makanan yang parah di supermarket, banyak penduduk yang harus menerobos masuk ke Afrika Selatan maupun Botswana untuk mendapatkan bahan makanan pokok. Akibatnya, mata uang yang beredar didominasi oleh Dollar AS dan mata uang Afrika Selatan.

Pada Tahun 2009, Pemerintah Zimbabwe mengambil keputusan yang cukup berani, yakni melepaskan mata uangnya sendiri dan menggantinya dengan Dollar AS dan mata uang Rand dari Afrika Selatan sebagai alat pembayaran utama.

Yugoslavia, 1994

Negara Yugoslavia terbentuk setelah Perang Dunia I oleh kesatuan Bosnia – Herzegovina, Montenegro, Macedonia, Kroasia, Slovenia, dan Serbia. Namun, krisis ekonomi dan krisis politik yang terjadi di tahun 1980an telah memicu terjadinya perang saudara yang berakhir dengan perpecahan kembali negara-negara ini. Pada Tahun 1992, hanya Serbia dan Montenegro yang masih menyatu.

Keadaan semakin memburuk akibat pengeluaran pemerintah yang tidak terkontrol, pemborosan di berbagai aspek, korupsi, hingga embargo dari PBB di tahun 1992 dan 1993. Di awal tahun 1994, harga-harga melonjak secara drastis, dan bahkan mencapai 313.000.000% setiap bulannya. Tingkat inflasi harian mencapai 65%, dan harga-harga naik dua kali lipat setiap 34 jam.

Kepanikan membuat rakyat Yugoslavia bergegas membelanjakan setiap uang yang mereka dapatkan untuk membeli kebutuhan harian di Hungaria. Para petani menghentikan produksi. Untuk mencegah kerusuhan sosial, pemimpin Serbia, Slobodan Milosevic, mencoba bernegosiasi untuk menghentikan embargo dari PBB. Pada akhirnya, pemerintah sepakat untuk memperkenalkan mata uang baru, yakni “the new dinar.”

Jerman, 1923

Siapa sangka jika negara besar seperti Jerman pernah mengalami salah satu hiperinflasi terburuk dalam sejarah. Setelah berakhirnya Perang Duna I pada tahun 1918, negara ini terlilit banyak hutang dan harus mengeluarkan anggaran besar untuk pemulihan. Akibatnya, pemerintah mulai mencetak uang Mark untuk membayar hutang-hutangnya.

Semakin banyak uang dicetak, nilainya semakin merosot. Kondisi memburuk saat German gagal melakukan pembayaran pada Tahun 1923, yang memicu tentara Perancis dan Belgia untuk menduduki wilayah Ruhr Valley. Akibatnya, terjadi mogok kerja dan produksi di wilayah industri inipun terhenti.

Pada bulan Oktober 1923, inflasi melonjak hingga 29.500% per bulan. Tingkat inflasi harian mencapai 21% dan harga-harga naik dua kali lipat setiap 3 hari, 17 jam. Misalnya, sepotong roti yang harganya 250 Mark pada bulan Januari 1923 naik menjadi 200.000.000.000 Mark pada bulan November di tahun yang sama. Satu tahun kemudian, pemerintah mengadopsi mata uang baru, Rentenmark. Harga-harga mula stabil dan pada akhirnya, para kreditur setuju melakukan restrukturisasi pemulihan pasca-peperangan.

Yunani, 1944

Ternyata, banyak negara yang menderita setelah berakhir Perang Dunia I yang diikuti Perang Dunia II. Di antaranya adalah Yunani. Perekonomian negara ini menderita sangat parah karena diduduki negara-negara Axis selama Perang Dunia II. Para penjajah merampas bahan baku, makanan, dan ternak. Pemerintah  boneka dipaksa menanggung semua dampak dari penjajahan tersebut.

Penurunan produksi pertanian secara drastis menyebabkan terjadinya kekurangan bahan makanan di kota-kota besar. Akibatnya, terjadilah kelaparan besar-besaran. Merosotnya pendapatan pajak menyebabkan inflasi melonjak, hingga mencapai puncaknya, yakni 13.800% per bulan, pada bulan November 1944. Tingkat inflasi harian mencapai 18% dan harga-harga naik dua kali lipat setiap 4 hingga 5 hari.

Meski kenaikan harga tidak separah yang pernah dialami Hungaria atau Jerman, masa pemulihan krisis ekonomi Yunani relatif lebih lama. Pemerintah melakukan tiga cara untuk memulihkan perekonomian melalui reformasi fiskal, pinjaman, dan penggunaan mata uang baru. Perekonomian Yunani mulai stabil setelah 18 bulan.

Reporter Online untuk situs PasBar Online, sangat menyukai renang, dan memiliki passion dibidang teknologi informasi. Saat ini menulis untuk berita, teknologi, wisata, bisnis, kuliner serta sosial dan budaya.
×
Reporter Online untuk situs PasBar Online, sangat menyukai renang, dan memiliki passion dibidang teknologi informasi. Saat ini menulis untuk berita, teknologi, wisata, bisnis, kuliner serta sosial dan budaya.
Latest Posts
  • Mengenal-Olahraga-untuk-Anak-ADHD
  • Manfaat-Training-Memanah-Bagi-Anak
  • Training-untuk-Penderita-Autis
  • Fitness-Untuk-Para-Manula

Comment here